Ketika
Perbedaan sudah Melanda
Judul
buku : Elegi
Penulis : Auliya Millatina Fajwah
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia
Genre : Novel
Penerbit : SkylArt Publisher, Bandung
Tgl.
Terbit : September 2012
Jumlah
: 156 halaman
ISBN : 978-602-18628-9-6
Novel
Elegi karya Aulia Millatina Fajwah bercerita tentang tokoh Dylan yang merupakan
salah satu anak dengan kelainan di dalam dirinya, yaitu Heterochromia Iridium yang merupakan suatu kelainan yang disebabkan
oleh perbedaan konsentrasi dan distribusi pigmen melanin yang mengatur warna
mata sehingga warna iris mata dapat berbeda. Dari kecil, Dylan sudah mengidap
kelainan Heterochromia Iridium
sehingga sebelah matanya berbeda, yaitu coklat dan merah dan rambutnya pun
pirang keperakan. Teman-teman kecilnya pun sering mengejek sebagai anak yang
aneh. Ejekan tersebut membuat gangguan terhadap psikologis diri Dylan sehingga membawanya
menjadi penderita social anxiety disorder.
Social
anxiety disorder atau lebih dikenal sebagai fobia sosial, yang merupakan
gangguan kecemasan dengan ditandai oleh rasa takut yang intens dalam situasi
sosial sehingga menyebabkan kesulitan dan gangguan kemampuan untuk berfungsi
dalam kehidupan sehari-hari. Social
anxiety disorder dapat didiagnosis karena ketakutan kronis yang dihakimi
oleh orang lain sehingga menjadi malu atau dipermalukan oleh diri sendiri.
Dylan sering dihakimi oleh teman-teman
semasa kecilnya sehingga dirinya merasakan ketakutan akan sosial dan dirinya
merasakan kesepian, bahkan Dylan menganggap bahwa orangtuanya pun tidak sayang
kepadanya. Akan tetapi, bidadari penolong dan pemberi rahmat muncul disaat
kesepian melanda kepada dirinya, yaitu tante Miho ibu dari Reyka. Pertemuan
antara Dylan dan Reyka yang diperkenalkan oleh Miho, dapat menjalinkan tali
persahabatan bahkan dianggap sebagai saudara kandung.
Sama halnya Dylan, Reyka pun memiliki
gangguan terhadap psikologisnya. Ibunya memperlakukan Reyka layaknya sebagai
seorang perempuan. Rambut panjang, memakai baju perempuan, bahkan kelihatan
seperti seorang perempuan yang feminin. Psikologis Reyka terganggu karena
dirinya merupakan laki-laki yang ingin mendapatkan cinta dari seorang wanita
dengan gaya maskulinnya.
Pertemuan Dylan dengan Sara di rumah
sakit memberikan kesan pertama terhadap perkenalan dan pertemanan yang tanpa
saling melihat satu sama lain hanya dibatasi oleh dinding dan tirai berwarna
putih. Keduanya tidak ada satu keberanian untuk saling melihat satu sama lain.
Terutama Dylan, yang hanya berbicara dan memperkenalkan dirinya di balik tirai
karena menyadari bahwa dirinya memiliki kelainan fisik yang berbeda.
Sara memiliki kakak yang sangat protective, yaitu Rion yang selalu
menjadi bayang-bayang hitam bagi Sara karena semua persoalan Sara wajib
diketahui oleh Rion. Keprotectivean Rion
muncul karena dirinya merasa bertanggung jawab atas keluarganya, menjadi kepala
keluarga setelah kepergian Ayahnya.
Pertemuan antara Dylan, Reyka, Sara dan
Rion memiliki kesan yang berbeda-beda. Konflik ketiga laki-laki itu dapat
diselesaikan melalui Sara karena sama-sama mencintai Sara. Sampai akhirnya, antara Dylan, Sara, dan
Reyka terjebak ke dalam sebuah cinta yang platonis. Akan tetapi, Reyka dapat
meluluhkan hati Sara.
Dalam sebuah karya sastra, baik fiksi
maupun nonfiksi lainnya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Setiap kelebihan
pasti ada kekurangan, begitu pun sebaliknya. Kelebihan dalam novel Elegi ini menjelaskan bahwa setiap
manusia memiliki kelainan, baik itu fisik maupun batin. Kelainan fisik yang
digambarkan dalam novel ini memperkenalkan Heterochromia
Iridium, yaitu suatu kelainan yang dapat membedakan warna mata, rambut, dan
kulit serta membuktikan bahwa kelainan ini ada dalam realitas.
Novel Elegi pun menyisipkan Mitologi Dewa-Dewi Yunani sebagai jelmaan
setiap para tokohnya dan memberikan kesan terhadap novel ini sebagai novel
sastra. Layaknya novel sastra yang lain, novel Elegi pun memiliki diksi yang dipakai dengan baik dan bijaksana,
setiap pilihan kata yang dipakai oleh pengarang dipertimbangkan matang-matang
terlebih dahulu.
Novel ini terdiri atas 14 bagian, setiap
bab memakai judul berbahasa Inggris, yaitu Prolog,
Memories, After Thirteen Years, Surprise, First Sight, Remember Me, Pattisarie,
Wine, Senorita, World Is Mine, Whithout Love, Star Rider, Will Be All Right, dan
Epilog. Pada awal bab, pengarang menyisipkan
kata-kata bijak agar menyugesti kepada pembaca untuk merenungi dan memahami
setiap bab demi bab.
Kelebihan pengarang pun dalam hal
mengutip dapat mencantumkan dari mana dan buku apa yang dikutip sehingga
menjadi point plus dalam
memperlihatkan kerendahan hati pengarang dan kejujuran terhadap tulisan. Kutipan
itu tercantum ketika Sara bergumam “Hanyalah manusia yang dapat merasakan
kepedihan karena memiliki sesuatu yang tak dibutuhkannya, namun mendambakan
sesuatu yang tak mampu dimilikinya” (Fajwa, Elegi:
15). Pengarang mengutip kata-kata tersebut dalam novel Laila dan Majnun karya Nizami
yang dicantumkan pada catatan kaki halaman 15.
Luasnya wawasan pengarang terhadap
negara Eropa dan Asia Timur menambah pengetahuan kepada pembaca tentang budaya Wine (anggur) yang ada di Perancis dan Jepang.
Pengetahuan pengarang tentang Jepang pun dimunculkan dalam novel ini, seperti
halnya dalam bahasa Jepang yang ada dalam catatan kaki dengan memunculkan
tulisan Katakana, Hiragana, dan Kanji. Di samping tulisan Jepang, pengarang pun menuliskan huruf
latinnya juga dan penerjemahan dalam bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Pengetahuan
tentang hiruk pikuk kehidupan di negara Sakura yang serba praktis dan modern,
menambah kesan kepada pembaca tentang bagaimana gambaran negara Jepang yang
maju dalam segi pembangunan dan perekonomian.
Namun, adapun kekurangan yang terdapat dalam
novel Elegi ini terletak pada gaya
penulisan pengarang yang berubah-ubah dan tidak begitu mendetail dalam hal
menggambarkan suasana, tempat, dan waktu sehingga pembaca tidak dapat untuk
mengimajinasikan apa yang pengarang bayangkan karena setiap orang yang membaca
mempunyai interpretasi tersendiri terhadap bacaannya. Selain itu, kekurang
novel ini pun terdapat pada catatan kaki. Pengarang memberikan catatan yang
tidak perlu untuk dicatat pada catatan kaki karena mengganggu kepada pembaca sehingga
sama saja dengan pengarang masuk ke dalam cerita. Menurut H.B. Jassin,
kehadiran pengarang dalam cerita Sitti
Noerbaja karya Marah Roesli bisa merusak interpretasi pembaca, begitu pun
dalam novel Elegi ini. Gaya penulisan
catatan kaki pengarang sama dengan gaya penulisan catatan kaki dari Tere Liye
dalam novel Hafalan Shalat Delisa.
Novel Elegi ini baik untuk di baca oleh siapa pun karena isinya mudah
dimengerti dan dipahami. Berbeda dengan novel-novel remaja lainnya, novel Elegi mengandung nilai kepercayaan
terhadap diri sendiri walaupun perbedaan fisik tampak jelas dilihat dengan
kemasan nuansa remaja “banget”. Pesan moral yang nampak jelas bagi orang tua
bahwa setiap anak memiliki cita-cita sendiri, memiliki jalannya sendiri,
memiliki kehendak sendiri, dan memiliki interpretasi terhadap dirinya sendiri. Tidak
adanya kungkungan dari orangtua yang mengharuskan anak berbuat sesuka hati
orang tua. Orang tua hanya sebagai media kontrol anak apabila seorang anak
melakukan tindakan yang salah.
Menulis adalah hobi Fajwah sejak dari
kecil, melalui novel Elegi ini
membuktikan bahwa tulisannya layak untuk dimuat dan diambil hikmatnya. Maka
dari itu, baca dan nikmatilah karya Fajwah dengan membaca khusuk dan
perlahan-lahan karena kebahasaannya yang mengandung banyak arti. Semoga bermanfaat
dan menambah ilmu pengetahuan dengan membaca Elegi karya Aulia Millatina Fajwah.
***
